7 Jenis Kayu Tahan Air yang Kuat dan Banyak Digunakan di Indonesia
- By Biovarnish - 15 Januari 2026 - 03:21:35
Pemilihan kayu untuk area lembap, berair, atau sering terpapar cuaca tidak bisa dilakukan sembarangan. Tidak semua kayu keras memiliki ketahanan yang sama terhadap air, jamur, dan organisme perusak. Karena itu, penting memahami karakter tiap jenis kayu sebelum digunakan untuk konstruksi, perkapalan, maupun produk berbahan kayu lainnya.
Berikut ini beberapa jenis kayu tahan air yang dikenal kuat dan banyak dimanfaatkan di Indonesia, berdasarkan karakter dan penggunaannya.
Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan kayu endemik Kalimantan dengan nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Kayu ini memiliki kekuatan dan keawetan kelas satu, sehingga sering dijuluki iron wood atau kayu besi.
Dalam penggunaannya, kayu ulin banyak dimanfaatkan untuk rumah panggung, jembatan, bantalan rel kereta api, tiang listrik, hingga perkapalan. Ketahanannya terhadap air menjadikan kayu ini sangat cocok untuk aplikasi yang bersentuhan langsung dengan air laut maupun area berair seperti rawa. Struktur kayunya tetap stabil meskipun digunakan dalam kondisi basah dalam waktu lama.

Kayu bengkirai (Shorea laevifolia Endert) banyak digunakan untuk konstruksi jembatan, kerajinan, dan pembuatan kapal. Kayu ini dikenal mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan, termasuk paparan air secara berulang.
Bengkirai termasuk kayu yang kuat dan tahan air, sehingga dapat digunakan untuk konstruksi berat, bantalan, serta lantai kapal. Salah satu kekurangannya adalah kecenderungan mudah retak. Namun, retakan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan dempul kayu, sehingga kekuatan kayu dapat kembali stabil.

Meranti merah (Shorea leprosula) termasuk kayu keras dan kuat yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan kapal. Kayu ini memiliki kadar air alami sekitar 15 persen, yang membuatnya cukup stabil untuk aplikasi yang berkaitan dengan air.
Dalam praktiknya, meranti merah sering digunakan pada bagian konstruksi yang membutuhkan kekuatan sekaligus ketahanan terhadap paparan air, dengan catatan perlindungan permukaan dilakukan secara tepat.

Kayu jati dikenal unggul karena keawetannya yang tinggi secara alami. Seiring bertambahnya usia kayu, daya tahannya justru semakin meningkat. Selain kuat, kayu jati memiliki tingkat kembang susut yang kecil, sehingga tidak mudah berubah bentuk saat terkena air.
Sifat ini menjadikan kayu jati banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan yang membutuhkan ketahanan tinggi, termasuk pada area yang berpotensi sering terkena air hujan atau cipratan air.

Kayu merbau merupakan kayu asli Indonesia yang banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, terutama Papua. Kayu ini digunakan untuk balok, tiang, papan, bantalan, panel lantai, hingga mebel.
Kayu merbau memiliki kelas kekuatan I-II dan kelas keawetan I. Ketahanannya terhadap air, jamur, dan serangga perusak membuat kayu ini cocok digunakan untuk konstruksi berat yang membutuhkan daya tahan tinggi.

Kayu mahoni banyak digunakan sebagai bahan konstruksi karena memiliki kelas kuat II-III dan kelas awet II-III. Serat kayunya indah, pori-porinya lurus dan halus, serta teksturnya relatif lunak sehingga mudah diolah.
Warna kayu mahoni berkisar dari cokelat pucat hingga cokelat kemerahan. Semakin tua usia kayu, warna yang dihasilkan akan semakin gelap. Dengan perlindungan yang tepat, mahoni tetap dapat digunakan pada kondisi yang membutuhkan tingkat ketahanan yang baik.
img class="alignnone wp-image-3409 size-full" src="/assets/stocks/2026/Kayu Sonokeling.webp" alt="Kayu Sonokeling" width="1182" height="1182" />
Kayu sonokeling dikenal memiliki daya tahan tinggi dengan nilai estetika yang setara dengan kayu jati. Kayu ini lebih banyak digunakan untuk mebel, kerajinan, dan perabot.
Ciri khas sonokeling terletak pada warna cokelat tua dengan garis kehitaman yang membentuk corak dekoratif alami dan tampak agak mengilap. Kayu ini memiliki kelas kuat II dan termasuk dalam kelas awet I, sehingga cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang menantang.
Setiap jenis kayu tahan air memiliki karakter dan tingkat ketahanan yang berbeda. Kayu seperti ulin, bengkirai, meranti merah, jati, merbau, mahoni, dan sonokeling telah lama digunakan karena mampu bertahan lama meski bersentuhan langsung dengan air.
Walau memiliki keawetan alami, kayu tetap memerlukan lapisan pelindung atau finishing. Finishing membantu menahan masuknya air agar kekuatan dan kestabilan kayu tetap terjaga.
Produk finishing water based dari Biovarnish dapat digunakan untuk melindungi kayu tanpa menghilangkan karakter alaminya. Biovarnish memiliki sifat weather resistant dan water repellent yang membantu mencegah penyerapan air serta melindunginya dari paparan cuaca.
Dengan pemilihan jenis kayu dan teknik finishing yang tepat, kayu akan lebih awet, stabil, dan bernilai guna tinggi.
Untuk pemesanan Biovarnish dan informasi lebih lanjut, silakan klik banner di bawah ini.

Berikut ini beberapa jenis kayu tahan air yang dikenal kuat dan banyak dimanfaatkan di Indonesia, berdasarkan karakter dan penggunaannya.
1. Kayu Ulin
Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) merupakan kayu endemik Kalimantan dengan nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Kayu ini memiliki kekuatan dan keawetan kelas satu, sehingga sering dijuluki iron wood atau kayu besi.
Dalam penggunaannya, kayu ulin banyak dimanfaatkan untuk rumah panggung, jembatan, bantalan rel kereta api, tiang listrik, hingga perkapalan. Ketahanannya terhadap air menjadikan kayu ini sangat cocok untuk aplikasi yang bersentuhan langsung dengan air laut maupun area berair seperti rawa. Struktur kayunya tetap stabil meskipun digunakan dalam kondisi basah dalam waktu lama.
Baca juga : 5 Cara Finishing Kayu Ulin agar Mewah, Awet, dan Bernilai Tinggi
2. Kayu Bengkirai

Kayu bengkirai (Shorea laevifolia Endert) banyak digunakan untuk konstruksi jembatan, kerajinan, dan pembuatan kapal. Kayu ini dikenal mampu bertahan menghadapi perubahan kondisi lingkungan, termasuk paparan air secara berulang.
Bengkirai termasuk kayu yang kuat dan tahan air, sehingga dapat digunakan untuk konstruksi berat, bantalan, serta lantai kapal. Salah satu kekurangannya adalah kecenderungan mudah retak. Namun, retakan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan dempul kayu, sehingga kekuatan kayu dapat kembali stabil.
3. Kayu Meranti Merah

Meranti merah (Shorea leprosula) termasuk kayu keras dan kuat yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan kapal. Kayu ini memiliki kadar air alami sekitar 15 persen, yang membuatnya cukup stabil untuk aplikasi yang berkaitan dengan air.
Dalam praktiknya, meranti merah sering digunakan pada bagian konstruksi yang membutuhkan kekuatan sekaligus ketahanan terhadap paparan air, dengan catatan perlindungan permukaan dilakukan secara tepat.
4. Kayu Jati

Kayu jati dikenal unggul karena keawetannya yang tinggi secara alami. Seiring bertambahnya usia kayu, daya tahannya justru semakin meningkat. Selain kuat, kayu jati memiliki tingkat kembang susut yang kecil, sehingga tidak mudah berubah bentuk saat terkena air.
Sifat ini menjadikan kayu jati banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan yang membutuhkan ketahanan tinggi, termasuk pada area yang berpotensi sering terkena air hujan atau cipratan air.
5. Kayu Merbau

Kayu merbau merupakan kayu asli Indonesia yang banyak ditemukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, terutama Papua. Kayu ini digunakan untuk balok, tiang, papan, bantalan, panel lantai, hingga mebel.
Kayu merbau memiliki kelas kekuatan I-II dan kelas keawetan I. Ketahanannya terhadap air, jamur, dan serangga perusak membuat kayu ini cocok digunakan untuk konstruksi berat yang membutuhkan daya tahan tinggi.
6. Kayu Mahoni

Kayu mahoni banyak digunakan sebagai bahan konstruksi karena memiliki kelas kuat II-III dan kelas awet II-III. Serat kayunya indah, pori-porinya lurus dan halus, serta teksturnya relatif lunak sehingga mudah diolah.
Warna kayu mahoni berkisar dari cokelat pucat hingga cokelat kemerahan. Semakin tua usia kayu, warna yang dihasilkan akan semakin gelap. Dengan perlindungan yang tepat, mahoni tetap dapat digunakan pada kondisi yang membutuhkan tingkat ketahanan yang baik.
7. Kayu Sonokeling
img class="alignnone wp-image-3409 size-full" src="/assets/stocks/2026/Kayu Sonokeling.webp" alt="Kayu Sonokeling" width="1182" height="1182" />
Kayu sonokeling dikenal memiliki daya tahan tinggi dengan nilai estetika yang setara dengan kayu jati. Kayu ini lebih banyak digunakan untuk mebel, kerajinan, dan perabot.
Ciri khas sonokeling terletak pada warna cokelat tua dengan garis kehitaman yang membentuk corak dekoratif alami dan tampak agak mengilap. Kayu ini memiliki kelas kuat II dan termasuk dalam kelas awet I, sehingga cukup tahan terhadap kondisi lingkungan yang menantang.
Perlindungan Finishing untuk Kayu Tahan Air
Setiap jenis kayu tahan air memiliki karakter dan tingkat ketahanan yang berbeda. Kayu seperti ulin, bengkirai, meranti merah, jati, merbau, mahoni, dan sonokeling telah lama digunakan karena mampu bertahan lama meski bersentuhan langsung dengan air.
Walau memiliki keawetan alami, kayu tetap memerlukan lapisan pelindung atau finishing. Finishing membantu menahan masuknya air agar kekuatan dan kestabilan kayu tetap terjaga.
Produk finishing water based dari Biovarnish dapat digunakan untuk melindungi kayu tanpa menghilangkan karakter alaminya. Biovarnish memiliki sifat weather resistant dan water repellent yang membantu mencegah penyerapan air serta melindunginya dari paparan cuaca.
Dengan pemilihan jenis kayu dan teknik finishing yang tepat, kayu akan lebih awet, stabil, dan bernilai guna tinggi.
Untuk pemesanan Biovarnish dan informasi lebih lanjut, silakan klik banner di bawah ini.




