3 Jenis Campuran Pernis Kayu dan Cara Memilih yang Paling Tepat

  • By Biovarnish - 10 Juli 2026 - 08:12:44

 

Salah satu pertanyaan yang sering muncul sebelum mulai finishing adalah soal campuran pernis kayu. Dicampur apa? Berapa banyak? Apakah semua pernis perlu dicampur?

Pertanyaan ini wajar, terutama karena banyak produk pernis di pasaran tidak mencantumkan informasi yang cukup jelas. Akibatnya, tidak sedikit yang salah pilih campuran, hasilnya cat belang, lambat kering, bahkan mengelupas dalam beberapa bulan.

Kenyataannya, jenis campuran pernis kayu bergantung pada jenis pernis yang Anda gunakan. Ada yang perlu thinner, ada yang cukup spiritus, dan ada yang hanya butuh air. Kenali ketiganya terlebih dahulu sebelum mulai mengecat.

1. Thinner, Campuran untuk Pernis Solvent Based


Thinner adalah campuran pernis kayu yang paling umum dikenal di Indonesia. Bahan ini dipakai sebagai pengencer untuk pernis berbasis solvent, seperti pernis alkyd, NC (nitrocellulose), dan PU (polyurethane).

Fungsi utama thinner adalah menurunkan viskositas pernis agar lebih mudah diaplikasikan, baik dengan kuas maupun spray gun. Tanpa campuran thinner, pernis solvent terlalu kental dan sulit merata di permukaan kayu.

Soal takaran, tidak ada angka pasti yang berlaku untuk semua produk. Setiap merek punya rekomendasi sendiri yang biasanya tercantum di kemasan. Sebaiknya ikuti takaran tersebut, jangan menambahkan thinner terlalu banyak karena lapisan film yang terbentuk bisa terlalu tipis dan tidak tahan lama.

Yang perlu Anda tahu, thinner mengandung senyawa VOC (Volatile Organic Compounds) yang menguap saat proses pengeringan. Bau menyengat yang muncul bukan sekadar tidak nyaman. Paparan pelarut organik seperti toluena dan xylene yang terkandung dalam thinner dapat mengganggu sistem saraf pusat dan fungsi pernapasan pada pekerja yang terpapar secara berulang.

Selain itu, pernis solvent based, terutama untuk cat yang menggunakan resin alkyd, berpotensi menguning seiring waktu. Perubahan warna ini umumnya dipengaruhi oleh proses oksidasi akibat paparan panas atau sinar UV. Karena itu, pada finishing kayu berwarna terang atau natural muda, pernis solvent based perlu dipilih dengan lebih hati-hati.

Belum lagi soal biaya, harga thinner yang terus naik menambah beban produksi, sementara hasilnya tidak selalu lebih baik dibanding pernis water based yang cukup dicampur air.

2. Spiritus, Campuran untuk Plitur Shellac


Di Indonesia, banyak orang menyebut plitur shellac sebagai pernis. Padahal keduanya berbeda, terutama soal campurannya.

Plitur shellac berbentuk kepingan padat berwarna keemasan. Produk ini tidak bisa langsung diaplikasikan, harus dilarutkan dulu dengan spiritus hingga mencair dan mencapai kekentalan yang pas.

Inilah yang membuat plitur lebih menantang dibanding pernis biasa yaitu tidak ada takaran baku. Kepingan shellac dari setiap batch bisa berbeda ketebalannya, sehingga jumlah spiritus yang dibutuhkan pun tidak selalu sama.

Kekentalan larutan shellac juga bergantung pada selera dan pengalaman penggunanya. Terlalu encer, warna yang dihasilkan pucat dan lapisan tipis. Terlalu kental, hasil akhirnya tidak rata dan mudah bergaris bekas kuas.

Plitur shellac dengan campuran spiritus menghasilkan tampilan warna kekuningan atau kecokelatan yang khas, cocok untuk furnitur bergaya klasik atau antik. Sayangnya, ketahanannya terhadap air dan panas terbatas, sehingga kurang ideal untuk furnitur yang sering dipakai sehari-hari.

3. Air, Campuran untuk Pernis Water Based


Berbeda dari dua jenis sebelumnya, pernis water based hanya membutuhkan air sebagai campurannya. Tidak perlu membeli bahan pelarut tambahan, cukup air bersih yang sudah ada di rumah.

Ini yang membuat pernis water based jauh lebih praktis, terutama bagi pemula atau penghobi yang tidak ingin repot mengukur takaran thinner atau spiritus.

Soal takaran, pernis water based lebih terukur dan konsisten. Sebagai contoh, Biopaint Wood Stain diencerkan dengan perbandingan 2 bahan : 1 air. Takarannya jelas, mudah diulang, dan hasilnya konsisten di setiap lapisan.

Keunggulan lain pernis water based adalah tidak menimbulkan bau menyengat, cepat kering (15-20 menit kering sentuh), dan tidak menguning meski sudah lama dipakai. Pernis jenis ini juga aman digunakan di area indoor dan kuat untuk area outdoor.

Cara Memilih Campuran yang Tepat


Sebelum membeli campuran pernis, langkah pertama adalah mengenali jenis pernis yang Anda punya. Cara paling mudah yaitu cek label kemasan. Di sana biasanya tercantum apakah produk tersebut solvent based atau water based, sekaligus rekomendasi bahan pelarut yang digunakan.

Apabila label menyebut "encerkan dengan thinner" atau "gunakan solvent", artinya Anda membutuhkan thinner. Apabila tercantum "encerkan dengan air" maka cukup air bersih. Sementara, jika Anda memakai plitur dalam bentuk kepingan, maka Anda perlu spiritus.

Satu hal yang sering diabaikan adalah jangan mencampur jenis pelarut yang berbeda. Pernis water based tidak bisa dicampur thinner, begitu pula sebaliknya. Salah campur bisa merusak struktur kimia pernis dan hasilnya tidak akan menempel dengan baik di permukaan kayu.


Baca juga : Cara Plitur Kayu Pakai Kuas yang Benar agar Hasil Mengkilap dan Tahan Lama

Pilih yang Simpel, Pilih Water Based


Dari ketiga jenis campuran pernis kayu di atas, air adalah pilihan yang paling mudah dan aman. Tidak perlu pengalaman khusus untuk mengukur takaran, tidak ada bau yang mengganggu, dan jauh lebih hemat.

Biopaint hadir sebagai pernis water based yang mudah diaplikasikan, cukup campur air, aduk rata, dan langsung bisa digunakan dengan kuas atau spray gun. Tersedia dalam berbagai varian mulai dari Wood Filler, Wood Stain, hingga Clear Coat untuk hasil finishing natural kayu yang lengkap dari awal hingga lapisan akhir.

Tertarik mencoba Biopaint? Klik banner di bawah untuk informasi produk dan pemesanan.


Chat via WhatsApp